Saturday, May 9, 2015

Surat Cinta

"Pertama kali aku melihatmu, rasanya hatiku langsung berdebar-debar. Matamu yang menandakan keseriusan dalam kehidupan, wajahmu yang tampan nan rupawan dan wangi tubuhmu yang sangat wangi membuat aku merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya padamu, senior. 

Senior, aku sangat menyukaimu. Maukah engkau pergi ke belakang sekolah sendirian pukul 5 sore ini setelah kau menerima surat dariku? Untuk menemuiku dan sekedar berbincang hangat, aku harap engkau mau datang kesana. Surat ini aku buat tulus untukmu, setulus aku menyayangimu.

-Pemuja Rahasiamu-"


Sebuah tinta hitam dan coretan indah terukir diatas sebuah kertas dalam amplop berwarna pink itu. Yaa... Sebuah surat cinta! Sebuah surat cinta yang tak pernah aku kirimkan padanya. 
Dia adalah seniorku, bernama Keita Rei. Dari kelas 3-C di sekolah ku. Aku sangat menyukainya dari pertama bertemu. Memang hanya pertemuan biasa sih atau bisa juga disebut dengan "kebetulan bertemu". Semenjak saat itu setiap kali aku melihat kak Rei, hatiku selalu berdebar lebih kencang dari manusia biasa. Jika sebuah dinamo sepeda listrik dipasang pada jantungku, mungkin lampu pijar pada dinamo itu akan berubah menjadi lampu sorot saking kerasnya hatiku berdebar. Astaga !! Aku cinta mati pada senior itu. Dia sangat...sangat...sangat... Segalanya adalah dia, dan dia adalah segalanya.

Pagi hari itu aku berangkat lebih awal, dengan maksud agar aku bisa melihatnya melewati gerbang depan. Kebetulan kelasku berada di lantai 2 dan menghadap langsung kearah gerbang depan, sehingga aku bisa melihat siapa saja yang datang. Pukul 7 pagi aku sudah ada di kelas, penjaga pun heran sekali melihat aku yang datang sangat pagi.

Aku senyum-senyum sendiri ketika menantikan kak Rei melewati gerbang depan, wajah tampannya, segar tubuhnya, dan langkah kakinya dan segala yang ia lakukan pagi hari sangatlah spesial. Oh God, Terima kasih engkau telah menciptakan malaikat seperti Rei.

Pukul 7.30 pagi. Jam segini biasanya kak Rei sudah datang, aku tak sabar menantinya. Gumam nyanyian kecil keluar dari mulutku sambil menanti kedatangan Romeo itu.
Pukul 8.00 pagi, aku mulai heran kenapa kak Rei belum muncul juga. Ah mungkin sebentar lagi.
Pukul 8.30 pagi... Astaga, kemana dia? Apa dia tidak masuk sekolah? Raut senyum di wajahku pun berubah menjadi rasa cemas. Apa dia baik-baik saja? Bagaimana jika seseorang merampoknya disekolah? Dia tersesat ke sekolah? Kelaparan hingga mati? Pertanyaan macam apa ini? Semua pertanyaan ini muncul begitu saja di kepalaku. Rasa ragu pun muncul di hatiku, mungkin ia tak bisa datang ke sekolah. 

Pelajaran pertama pun dimulai, dan hari ini aku belum melihat kak Rei melewati gerbang depan seperti biasanya. Pikiranku kacau dan hanya bisa memikirkan kak Rei pada saat itu, ini adalah pelajaran tentang bahasa Inggris, pelajaran kesukaanku. Namun aku tak bisa menerima apa yang dikatakan guru, semuanya menjadi kacau balau. 

Pelajaran bahasa Inggris pun selesai dan kak Rei masih belum menunjukan batang hidungnya di sekolah. Aku melewatkan pelajaran bahasa Inggris begitu saja hanya demi menantikan kehadiran dia.

"Yuma, ada apa kau dengan hari ini? Aku lihat kau tidak bersemangat sekali, tidak seperti kau yang biasanya." Kirara, sahabat baikku bertanya padaku. 

Kirara akan marah padaku jika aku jujur padanya. Kirara adalah orang yang over protective padaku. Dia adalah ketua tim Taekwondo wanita di sekolahku. Orang-orang di sekolahku memanggil dia "Nona Gangster", semua orang baik junior maupun senior selalu segan ketika melihat dia. Dibalik wajah cantik, sikap feminim dan rambut hitam indah Kirara, kakinya mampu meremukan tulang rusuk 2 orang dewasa dalam satu kali ayun. Kirara adalah teman terbaikku yang sangat menyayangiku apapun yang terjadi. Jika aku mengatakan kak Rei membuatku galau karena tidak datang ke sekolah, mungkin dia akan bergegas pergi kerumah kak Rei dengan tergesa-gesa dan menyeretnya ke sekolah untuk berhadapan denganku. Hal itu mungkin saja terjadi mengingat kak Rei dan Kirara adalah sepupu-keponakan.

"eh.. ano... Aku hanya tidak enak badan hari ini, Kirara. Maaf yah, aku agak sedikit pusing jadi tidak bisa konsentrasi. Mungkin masuk angin" Jelasku.

"Astaga !! Yuma itu bukan hal kecil. Kau sakit kan? Mau aku panggilkan ambulan? Yuma kau harus pergi ke dokter sekarang! Jangan banyak bicara, aku yang antar." Kirara terlihat sangat percaya denganku.

"tidak.. aku tidak apa-apa, sungguh. Permisi, aku harus pergi dulu sebentar. Maaf ya Kirara"

Kirara terlihat sangat heran melihat gelagat anehku. Aku berlari ke arah loker sepatu sebari memegang surat cinta itu. Berdiri tepat didepan loker kak Rei, aku pandangi surat cinta miliku dan loker kak Rei berulang kali. Benar juga ! Jika kak Rei tidak masuk hari ini, ini adalah kesempatan besar untuk menyimpan surat ini. Surat yang akan memberikan jawaban pada hatiku yang selalu terpaku padanya. Haruskah aku meletakannya di loker sepatuku? atau aku mundur saja. Serasa 1 tahun aku memikirkan hal itu, namun hatiku melarang keras aku melakukan hal itu. Aku bingung mana yang harus aku ikuti, hatiku atau keinginanku.

"Kenapa tak kau taruh saja itu di dalam lokerku" Tiba-tiba seorang laki-laki berkata padaku dari pintu masuk. Dan astaga !! Itu kak Rei... Kenapa ia baru datang sekarang? Darimana saja dia? Kenapa waktunya tidak pernah tepat.

Aku hanya bisa terpaku terkejut sambil menahan malu, kakiku tak bisa bergerak ketika melihat kak Rei berdiri tegak di pintu masuk itu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?

"Ano... etto... umm... ma..maaf. Kak Rei" kalimat bata-bata keluar dari dalam mulutku begitu saja. Aku tahu, diam dan lari ke kelas adalah cara terbaik untukku agar masih bisa bertahan hidup, tapi kaki dan mulutku tidak mau merespon perintah otakku.

"Letakanlah surat cinta itu di lokerku, maka aku tak akan pernah mau mencoba menyayangimu lagi." Senyuman dan wajah tenang kak Rei terpampang diwajahnya sembari mengatakan hal itu. Itu cukup menyakiti hatiku.

"Aku tak suka dengan seorang gadis pengecut. Aku menantikan seseorang yang ingin memberikan surat cinta padaku langsung agar aku bisa mengingat wajahnya dan membawa ia kedalam kehidupanku perlahan-lahan"

Oh my God... Kak Rei ?? Aku cuma bisa terdiam terpaku saja melihat kak Rei mengatakan hal itu.

"Jadi maukah engkau berikan surat cintamu itu padaku sekarang juga? Agar aku bisa membacanya, Yuma?" Kata kak Rei padaku.

Hatiku dag dig dug tidak karuan ketika memberikan surat itu pada kak Rei, dia... Dia orang yang sempurna untukku menerima surat cinta langsung dariku. Surat cinta tulus hatiku. Astaga... Lenganku bergerak sendiri dan memberikan surat itu padanya. Aku pasti sudah gila !

Kak Rei membaca surat itu dan tersenyum bahagia, dia tampak sangat senang melihat surat buatanku untuknya. Dia memandangiku untuk beberapa saat. Please, kak Rei.. Jangan pandangi aku terus, bisa-bisa aku mati seketika disini. Kau tidak tahu betapa gugupnya aku didepanmu.

"Jadi, surat ini tulus untukku. Apa kau yang membuatnya?" Tanya kak Rei padaku

"I..Iya kak. Aku yang membuatnya dan itu tulus aku buat untukmu" jawabku.

Kak Rei melipat dan memasukan surat itu pada amplopnya, amplop pink yang menjadi wadah harapan hatiku untuknya. Ia masukan kedalam saku baju nya, bukan saku tas atau saku celana. Saku baju !

Dia berjalan kearahku dan... Oh NO !! Ciuman dari bibir kak Rei mendarat di keningku. Bunyikan jam alarm, aku pasti bermimpi.. Aku dicium oleh kak Rei? Astaga !! 

"Ini adalah ciuman pertamaku selama aku hidup, buatlah sebuah kejutan pukul 5 sore nanti. Jangan kecewakan aku ya, Yuma-chan" Dia tersenyum dan melangkah pergi menuju ruang kelasnya.

Kak Rei? benarkah? apakah ini mimpi? Aku masih bertanya-tanya apakah yang tadi itu benar... Bukan mimpi kan? Harapan hatiku terjawab sudah, kini aku selangkah lebih maju menuju pelukan kak Rei. Dan itu berkat surat cinta yang aku buat. Surat cinta itu telah menjawab pertanyaan besar dihatku. Dan kak Rei, menjadi lebih sempuran dimataku.

#Original_By : Aped 

0 komentar:

Post a Comment